My Favorite

My Favorite
Sehun

Kamis, 09 April 2015

Metabolisme dan Konsumsi Oksigen



LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MATERI DAN ENERGI
METABOLISME dan KONSUMSI OKSIGEN















Oleh

NAMA           : ANGELIA WATTIMURY
NIM                : 31140022
ASISTEN       : YUMECHRIS AMEKAN, S.Si






PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS BIOTEKNOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Oksigen dibutuhkan oleh semua mahkluk hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Kandungan oksigen (O2) dalam suatu perairan merupakan salah satu parameter kimia dalam menentukan kualitas air yang tingkat kebutuhannya dari tiap-tiap perairan, berbeda antara perairan satu dengan lainnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor suhu dan cuaca serta jenis organisme yang menempati perairan tersebut.
Menurut Kordi (2004), Oksigen (O2) merupakan salah satu faktor pembatas sehingga apabila ketersediaannya dalam perairan tidak mencukupi kebutuhan organisme yang ada, maka segala aktivitas organisme tersebut akan terhambat. Kadar oksigen yang terlarut dalam perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan semakin kecil atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin sedikit. Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktur molekul sel darah ikan, yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam air dan derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.
Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut. Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm  dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan  organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 %. KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut. Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. (BIOLOGI ONLINE, 1971)


B.     TUJUAN
1.      Mempelajari penentuan konsentrasi oksigen terlarut pada air dengan metode Micro Winkler
2.      Menentukan konsumsi oksigen dan laju metabolisme organisme akuatik



BAB II
LANDASAN TEORI
Air mengandung gas terlarut seperti oksigen, dimana air umumnya mengandung 4-8 ppm oksigen. Oksigen dapat larut dalam air karena molekul-molekul oksigen menempati ruang diantara molekul air. Kelarutan okigen dalam air  bergantung pada suhu. Oksigen terlarut dalam air sangat menentukan baku mutu air sebagai air baku di industri.
Dissolved oxygen adalah banyaknya oksigen yang terlarut dalam air. Oksigen masuk ke dalam air melalui difusi langsung pada interface gas-cair, dengan proses aerasi air maupun dari fotosintesis tumbuhan air (Renn, 1968). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi oksigen terlarut dalam air meliputi suhu, kedalaman, musim, polusi, dan limbah organik (Murphy, 2007).
Oksigen terlarut merupakan parameter kunci kualitas air (Hickling, 1971 dalam Mukti dkk., 2003). Tersedianya oksigen terlarut dalam air sangat menentukan kehidupan udang dan ikan. Oksigen terlarut dalam suatu perairan diperoleh melalui difusi dari udara ke dalam air, aerasi mekanis, dan fotosintesis tanaman akuatik. Sementara itu, oksigen terlarut dalam air dapat berkurang akibat adanya respirasi dan pembusukan bahan organik pada dasar perairan (Department of Primary Industries and Resources of South Australia, 2003).
Semua organisme terdiri dari sel-sel kecil yang melaksanakan berbagai fungsi. Energi yang dibutuhkan untuk memproses fungsi tersebut. Energi ini disediakan oleh sel, dan diproduksi ketika sel-sel memecah komposisi kimia dari molekul makanan dan mengubahnya menjadi energi, yaitu mengubah glukosa menjadi energi. Hal ini dimungkinkan dengan proses yang disebut respirasi seluler, yang berlangsung di mitokondria (sebagai power house) dari sel. Selama proses ini, sel-sel memecah molekul glukosa dan melepaskan energi. Energi inilah yang dilepaskan dari glukosa digunakan untuk memproduksi ATP. Oleh karena itu, respirasi selular adalah proses dimana energi dari glukosa ditransfer ke ATP. Ini adalah bagian dari metabolisme dan semua organisme melalui respirasi selular.
Respirasi Seluler Aerobik
Respirasi Seluler Aerobik
Respirasi selular terdiri dari dua jenis – respirasi anaerob dan respirasi aerobik. Di sini, kita akan membahas respirasi aerobik. Respirasi selular sangat penting bagi kelangsungan hidup semua organisme, ketika energi dari makanan (glukosa) tidak dapat digunakan oleh sel sampai diubah menjadi ATP. Oleh karena itu, sebuah siklus berkesinambungan yang terjadi di semua organisme. Respirasi aerobik memainkan peran penting dalam produksi ATP, di mana glukosa dan oksigen merupakan unsur yang penting. Proses ini berlangsung hanya jika oksigen tersedia. Lihatlah rumus kimia yang diberikan di sini.
C6H12O6 + 6O2 = 6CO2 + 6H2O  + Energi (ATP)
Dengan kata sederhana – Glukosa + Oksigen = Karbon Dioksida + Air + Energi (ATP)
Tiga Tahapan Respirasi Aerobik
Respirasi aerobik terjadi dalam tiga fase – Glikolisis, Siklus Krebs, dan Fosforilasi oksidatif (juga disebut rantai transpor elektron). Hasil akhir dari tahap ini adalah ATP.
ATP adalah singkatan untuk Adenosin-5′-trifosfat, terdiri dari: kelompok 3 fosfat, gula 5 karbon (juga disebut ribose), dan Adenin. Ini adalah nukleotida multifungsi atau senyawa kimia yang melepaskan energi untuk membantu melakukan fungsi penting dalam sel.

Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan khan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan  lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air  buangan industri dan rumah tangga. Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Disamping itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Karena peranannya yang penting ini, air buangan industri dan limbah sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu diperkaya kadar oksigennya.
Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan Metode titrasi dengan cara WINKLER. Metoda titrasi dengan cara WINKLER secara umum banyak digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H – KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan sebagai berikut :
MnCI2 + NaOH                           Mn(OH)2 + 2 NaCI
2 Mn(OH)2 + O2                          2 MnO2 + 2 H20
MnO2 + 2KI + 2H2O                   Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
I2 + 2 Na2S2O3                                       Na2S4O6 + 2 NaI


BAB III
METODOLOGI
A.    Alat
1.      Pipet ukur 1 mL
2.      Buret
3.      Timbangan
4.      Erlenmeyer
5.      Toples

B.     Bahan
1.      Ikan 16 ekor
2.      Larutan MnCl2 4 H2O 80 g/100 mL H2O
3.      Asam Sulfat/Phosphat pekat
4.      Larutan penggumpal (36 g NaOH + 20 g KI + 0,5 NaN3 dilarutkan dalam 100 mL H2O)
5.      Larutan indikator amilum
6.      Larutan standar Na2S2O3 0,01 N

C.     Cara kerja (flow chart)


 









            Pengukuran Kandungan Oksigen Terlarut (Metode Winkler)


 






















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Perlakuan
Waktu
[DO] ppm
1 ekor ikan
0’
10,96 ppm
30’
5,36 ppm
60’
4,96 ppm
5 ekor ikan
0’
7,92 ppm
30’
5,2 ppm
60’
4 ppm
10 ekor ikan
0’
8 ppm
30’
8 ppm (tidak digunakan)
60’
5,2 ppm

Titrasi coklat – bening
Konsentrasi oksigen terlarut
5 ekor ikan
1.      Awal atau waktu = 0
Tidak ada ikan
 9,9 mL  0,08 mg O2
  
 
7,92 ppm

2.      Waktu = 30 menit
= 6,5 mL 0,08 mg O2
=   
=
= 5,2 ppm
3.      Waktu = 60 menit
= 5 mL 0,08 mg O2
=   
=
= 4 ppm

1        ekor ikan
1.      Awal atau waktu = 0
Tidak ada ikan
 13,7 mL  0,08 mg O2
  
 
10,96 ppm

2.      Waktu 30 menit
 6,7 mL  0,08 mg O2
  
 
5,36 ppm

3.      Waktu 60 menit
 6,2 mL  0,08 mg O2
  
 
4,96 ppm




10    kor ikan
1.      Awal atau waktu = 0
Tidak ada ikan
 10 mL  0,08 mg O2
  
 
8 ppm

2.      Waktu 30 menit
 5,2 mL  0,08 mg O2
  
 
8 ppm

3.      Waktu 60 menit
 6,5 mL  0,08 mg O2
  
 
5,2 ppm

Laju metabolisme
1 ekor ikan =
1 ekor ikan =
1 ekor ikan =
1 ekor ikan =
1 ekor ikan =
1 ekor ikan =

5 ekor ikan =
5 ekor ikan =  0,090
5 ekor ikan =
5 ekor ikan =
5 ekor ikan =
5 ekor ikan =


10 ekor ikan =
10    kor ikan =  0,046

B.     Pembahasan

            1 ekor ikan memiliki konsentrasi oksigen terlarut awal = 10,96 ppm lebih tinggi daripada konsentrasi oksigen terlarut yang dimiliki oleh 5 ekor ikan dan 10 ekor ikan. Setelah 30 menit kemudian konsentrasi oksigen terlarutnya 5,36 ppm, dan setalah 60 menit, konsentrasi oksigen terlarutnya 4,96 ppm. Hal yang sama terjadi pada 5 ekor ikan dan 10 ekor ikan, semakin lama mereka diletakkan dalam toples yang tertutup, maka semakin rendah oksigen terlarut yang ada didalamnya. Itu karena ikan-ikan tersebut berusaha untuk mengambil oksigen yang ada di dalam toples, sehingga oksigen terlarut dalam air dapat berkurang akibat adanya respirasi.
            Laju metabolisme 1 ekor ikan dari DO 0 menit – DO 60 menit adalah  sedangkan 5 ekor ikan dan 10 ekor ikan berturut-turut adalah  dan 0,046 . Bisa dilihat bahwa ada perbedaan yang besar antara ikan di dalam toples yang jumlahnya sedikit daripada ikan didalam toples yang ikannya banyak. 10 ekor ikan memilih untuk tidak terlalu banyak bergerak, karena dia harus membutuhkan oksigen agar dapat bertahan hidup. jika dia terus bergerak mungkin bisa saja dia akan mati. Berbeda dengan 1 ekor ikan yang bisa bebas bergerak, walaupun dia berada dalam wadah yang ditutup. Setidaknya dia tidak berlomba dengan ikan yang lainnya.

BAB V
KESIMPULAN

1.      Konsentrasi oksigen terlarut pada air dengan metode Micro Winkler
1 ekor ikan
Awal = 10,96 ppm
30 menit = 5,36 ppm
60 menit = 4,96 ppm

5 ekor ikan
Awal7,92 ppm
30 menit = 5,2 ppm
60 menit = 4 ppm

10 ekor ikan
Awal8 ppm
60 menit = 5,2 ppm

2.      Menentukan konsumsi oksigen dan laju metabolisme organisme akuatik

Laju metabolisme
1 ekor ikan = DO 0 menit – DO 60 menit =
                  5 ekor ikan = DO 0 menit – DO 60 menit =
                  10 ekor ikan = DO 0 menit – DO 60 menit = 0,046



DAFTAR PUSTAKA

http://www.sridianti.com/proses-tahapan-respirasi-sel-aerobik.html Diakses tanggal 21 November 2014 Waktu 08:26 AM
Department of Primary Industries and Resources of South Australia. 2003. Water Quality in Fresh Aquaculture Ponds. http://www.pir.sa.gov.au/data/assets/pdf_file /0008/34001/watqual.pdf. 22/08/09. p3. Diakses tanggal 21 November 2014 Waktu 08:31 AM
(Hickling, 1971 dalam Mukti dkk., 2003) http://www.pir.sa.gov.au/data/assets/pdf_file /0008/34001/watqual.pdf. 22/08/09. p3 Diakses tanggal 21 November 2014 08:31 AM

Semoga membantu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar